ST3 Telkom Memanggil Putra – Putri Terbaik Bangsa

STT Telematika Telkom Purwokerto sebagai Sekolah  Tinggi Telematika satu – satunya di Jawa Tengah, kembali membuka kesempatan kepada putra – putri terbaik bangsa untuk bergabung, menjadi Calon Dosen Tetap.

Seiring tumbuh dan berkembangnya STT Telematika Telkom, tentunya sangat membutuhkan Sumber Daya Manusia yang memadai disegala bidang. SDM yang kami butuhkan adalah mereka yang mempunyai skill yang memadai, berkompeten dibidangnya serta mempunyai attitute dan integritas yang bagus. Siapkan diri anda untuk bergabung bersama kami…..

IKLAN LOWONGAN DOSEN 2

Lahar bukan dari gunung berapi…..

Berfikir untuk maju, berfikir kedepan adalah prioritas bijak dalam menyikapi setiap  sistem yang akan terus lahir dan berubah. Saya masih ingat betul meskipun ini sudah cukup lama, waktu itu saya dan teman – teman masih terlibat dalam aktifitas di sebuah kampung nan jauh di Pulau Sumatera, tepatnya Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Persis matahari masih tajam diatas kepala, selepas sholat dhuhur kami berlima bergegas ke tempat yang sudah kami rencanakan, kampung nan indah di tengah kebun karet, Lemahtang kami biasa menyebutnya. Mobil Hartop andalan kami merupakan pinjaman gratis dari pengelola komplek olahraga, seorang pensiunan pegawai KONI yang menghabiskan masa tuanya mengabdikan diri di dunia olahraga.  Bahagia kami tatkala melewati jalan – jalan kecil kampung, kanan kiri lahan hijau, ramah tamah penduduk menyapa kami.

Banyak potensi sebenarnya yang ada di kampung yang kami singgahi, disamping semangat kerja keras penduduknya, meskipun sebagaian besar bertani dan berkebun, tetapi tidak sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk pendidikan putra – putrinya.  Sebut saja Diana, putri bungsu dari pasangan Satanawira dan Endahirah, lahir sebagai putri cerdas, ulet dan rajin beribadah. Disamping sekolah hari – harinya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, belajar dan mengaji. Disamping semua gambaran diatas kampus ini juga menyimpan potensi dasyat yang sewaktu – waktu bisa menjadi bara, apabila tidak dijaga kerukunan, toleransi dan saling menghormati, mengingat kemajemukan penduduknya dengan berbagai karakter.

Kami berlima sering menyebut kampung ini sebagai lahar bukan dari gunung berapi, mengingat  keanekaragaman yang ada dikampung ini, semangat menghargai perbedaan, suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota, namun kampung ini bisa mengalirkan hawa panas yang bisa menyebar kemanapun, dan mampu menunjukan keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat yang bisa diperhitungkan. Putra – putri mereka banyak tersebar diberbagai perguruan tinggi, instansi dan industri, mereka akan kembali dalam kesederhanaan ketika mereka berada ditengah – tengah kampung, tetap mau turun ke lumpur, tetap mau untuk terkena terik matahari, dan yang membuat kami sangat kagum adalah segala yang mereka raih di luar sana tidak kemudian menjadikan mereka saling beradu dan pamer serta menonjolkan kesuksesan masing – masing.

Semoga kearifan mereka tetap akan terjaga…….

Wawancara Cados dan Capeg ST3 Telkom 2016

Pada hari ini, Kamis, 4 Februari 2016 ini, STT Telematika Telkom menyelenggarakan  wawancara untuk memenuhi kebutuhan dosen dan tenaga penunjang akademik, yang dilakukan oleh manajemen dengan dihadiri oleh Ketua, Waket I,dan Waket II.  Wawancara dimaksud untuk mengetahui sejauhmana integrity, initiative, achievement orientation, team work, adaptabilty, analytical thinking, and problem solving. Tidak mudah memang untuk mencari calon pegawai dengan kriteria yang mendekati sempurna, tetapi paling tidak kita dapat mengetahui sejauhmana kesiapan, kompetensi mereka untuk di tempatkan sesuai dengan kebutuhan sumber daya STT Telematika Telkom.

DSCN2445

Peserta wawancara yang hadir dari berbagai kota, dengan disipilin ilmu yang beraneka ragam, dengan latar belakang perguruan tinggi yang bervariasi tentunya ini memberikan pilihan tersendiri untuk bisa menghadirkan pegawai yang semakin ideal. Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom yang dalam tahun ini akan mengajukan program studi baru, di tambah lagi dengan proyeksi menuju Universitas Telkom Purwokerto, menuntut semua bagian untuk siap berpacu dan berlari dalam menyiapkan segala sesuatunya.

Kami yang merasakan hadir ditengah – tengah proses institusi merasakan, bagaimana denyut kesibukan terasa sangat tinggi, kerja sampai malam, sabtu yang biasanya menjadi hari yang indah untuk berlibur belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk kegiatan workshop. Lama – lama kami terbiasa dengan aroma dan irama kerja semacam ini, banyak hal baru yang kami pelajari, banyak hal baru yang kami temui, semoga ini memberi arti.

Menyikapi perbedaan pendapat..

Perbedaan pendapat sudah ada sejak jaman dulu, sejak jaman rosululloh perbedaan pendapat pun masih sering terjadi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua perbedaan itu tidak menyebabkan mereka berpecah belah atau saling menghujat dan menjatuhkan, mereka tetap bersaudara, rukun dan saling menghormati.   Perbedaan pendapat itu indah jika kita mampu memaknai sebagai keanekaragaman berfikir, kemajemukan kreasi dalam melengkapi, corak tanpa batas warna.

Seperti kata Alloh “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat – 13).

Banyaknya perbedaan pendapat yang muncul dan akan terus ada, yang sering timbul di tengah hingar bingar perbedaan pendapat antar golongan ini biasanya mengakibatkan seseorang terlalu berlebihan dan terlalu kaku (tidak fleksibel) dalam berpikir, bergerak, dan belajar. Yang jatuhnya justru akan melemahkan fungsi dakwah itu sendiri. Jika kita terlalu berlebihan dalam memuja golongannya, hanya menerima pendapat dan masukan dari orang-orang kalangan internal mereka saja, dan tidak berkenan menerima masukan dari pihak luar yang bukan golongan mereka. Alih-alih mengamalkan saran, bahkan untuk sekedar menerima dengan rasa ikhlas saja juga terkadang sulit. Karena sudah tertanam dalam kepala mereka bahwa golongannya adalah yang paling benar.

Secara tidak sadar kita telah melahirkan sendiri ruang gerak yang menjadi terbatas. Secara otomatis lingkup interaksi dengan masyarakat sosial juga berubah. Karena sudah kadung fanatik dengan pemahamannya, yang ternyata juga tidak sedikit dari pemahaman itu merupakan tafsir yang kaku, maka tak bisa dipungkiri bahwa mereka juga akan membatasi diri mereka sendiri dalam menyampaikan sebuah pesan, karena melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini memang sangat banyak manusia yang secara moral dan perilaku sudah jauh dari nilai Islam. Seperti halnya yang sering terjadi di lingkungan kerja kita, dilingkungan tempat tinggal kita, banyak sekali perbedaan pendapat yang akan kita temui, kalau ini kita tidak sikapi dengan bijak, maka hal ini akan menjadi persoalan tersendiri buat kita dan hari – hari kita. Intinya bukan tugas kita menyamakan perbedaan, tetapi bagaimana menciptakan iklim perbedaan menjadi sejuk untuk dilalui.

Jam 11.45 WIB, Seperti kemarin,

Saat berkumpul dengan rekan – rekan dengan latar belakang yang berbeda – beda, dengan kompetensi yang beraneka rupa,  menjadikan saya merasa menjadi manusia yang belum menjadi apa – apa. Tepat jam 11. 45 WIB siang semangat mereka yang boleh di bilang sebagian besar usia sudah mendekati 40 tahun, masih tetap menyala dalam mengapresiasi  kegiatan. Kembali saya merasa menjadi manusia yang sepertinya tidak akan bisa mencapai seperti mereka, tertinggal sangat jauh, bukan siapa – siapa. Banyak orang sering menyampaikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini, kecuali atas kehendakNya, ini yang menjadikan saya kembali untuk mencoba menengadahkan kepala lagi, paling tidak untuk bisa menatap mereka lebih jauh. Keberanian ini harus saya tanamkan, paling tidak agar saya tidak gentar dalam menoreh catatan yang akan saya lakukan untuk hari depan, hari esok dalam sudut pandang yang sederhana.

Kembali jam 11.45 WIB seperti kemarin, mengingatkan pada saya kalau kemarin di jam itu saya sudah berjanji untuk terus membangun semangat baru. Waktu boleh bergulir tetapi tetap harus meninggalkan catatan bahwa says sudah lebih baik dari kemarin paling tidak pada jam itu. Lahir . tumbuh dan berkembang hanya soal waktu, sakit, tua, dan mati adalah kepastian. Tanda terima hidup adalah ketika kita mampu menerima apa yang sudah diberikan, menjaga, merawat dan menetapkan keberlangsungan dalam kebaikan untuk semua hal. Kebaikan yang berproses dari evaluasi diri terhadap setiap gerak, tingkah dan tutur dalam perjalanan waktu yang berbeda. Konsistensi terhadap komitmen dipertaruhkan sampai sejauh mana kita mampu melaksanakan setiap perjalanan dengan sebaik – baiknya, baik versi kita, orang lain dan Sang Pencipta. Boleh jadi saat ini rekan – rekan kita sudah di puncak pencapaian prestasi, sedangkan kita baru saja akan memulai, tidak ada yang salah, selagi kita ada kemauan untuk memulai.

Jam 11. 45 WIB, mengantarkanku pada waktu mendekati makan siang atau Sholat Dhuhur dulu untuk menghadap sang pencipta, sama – sama penting dengan waktu yang saling berdekatan. Waktu yang sempit ini kalau kita mengaturnya dengan baik, maka hanya akan menjadi waktu yang terbuang untuk leyeh – leyeh, bercanda dan senda gurau, yang akhirnya terlewat dari komitmen awal. Sebagian dari kita saya yakin sudah mempersiapkan apa saja yang akan dilakukan selepas ini, tetapi tidak jarang yang masing enggan untuk memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini. Soal nanti itu urusan nanti, barangkali ada yang berpendapat demikian, sekali lagi tidak jarang yang setelah ini sedang menggolkan pekerjaan besar, projek besar yang akan sangat berpengaruh terhadap masa depannya. Semoga kita segera beranjak dari jam 11.45 WIB yang kemarin untuk bisa berbuat hal yang berbeda untuk waktu lainnya.

Razeki ga pernah salah…

Kebahagiaan terpancar dari wajah bapak dua anak tetanggaku, ya itulah Bapak Sono, biasa kami ngobrol dan bertegur sapa gaya khas banyumas saat bertemu atau sengaja saya ke rumahnya. Setelah tidak lagi berjualan mie ayam, untuk menghidupi keluarga saat ini beliau menekuni menjadi kuli panggul di Pasar Wage, yang biasa dilakukan dari  pukul 01.30 WIB pagi sampai dengan pukul 06.00 WIB. Waktu yang tidak biasa memang bagi orang seperti saya, barangkali disaat kita sedang tertidur lelap beliau sudah berangkat ke pasar, disaat kita mau berangkat kerja , beliau sudah pulang dari pasar, sungguh luar biasa. Pekerjaan itu sangat tekun dijalaninya, meskipun jika malas sedang menghinggapi biasanya saya melihat beliau menghabiskan waktu dengan memancing atau main burung kesayangannya yang cukup banyak berjejer di rumahnya, itupun banyak dari hasil barter atau menangkap dengan jebakan.

Jarak antara rumah saya dengan beliau cukup dekat, seberang jalan, tepat rumah  nomer dua dari depan rumahku, mudah mencarinya dengan ciri khas yang sudah melekat. Sebenarnya mudah dikenali, cukup melihat orang yang jarang pakai baju kalau di rumah, itulah sosoknya, orangnya apa adanya, senang bercerita, cukup banyak punya keahlian, dari potong rambut sampai tukang bangunan. Cukup lama Pak Sono tinggal di rumah yang sederhana, kadangkala saya melihat kalau hujan ada air yang masih masuk kerumahnya, sering beliau curhat kondisi ini, dengan tetap berharap suatu saat ada rejeki yang datang untuk bisa mengubah semua. Seperti biasa hari – harinya dilewatkan dengan mencari rejeki dipasar wage, tidak terbesit sedikitpun barangkali bahwa akan ada rejeki lebih menghampiri untuk memperbaiki kondisi rumahnya, sampai kemudian pada hari dimana seseorang memerintahkan untuk segera memperbaiki rumahnya.

Bukan itu saja kebahagiaanya, anak gadis pertamanya yang sudah menunggak sepuluh  Bulan SPP di sebuah sekolah SMP di Purwokerto, ternyata telah lunas dibayari seseorang, yang kemudian diketahui adalah bapak dari teman sekolah anaknya. Sungguh luar biasa keajaibanNya, ketika Alloh sudah menentukan hambaNya yang akan di tolong, kapan saja , dimana saja, pada siapa saja semua akan menjadi nyata. Barangkali dari sini kembali kita belajar banyak hal bahwa kita tidak boleh berputus asa dengan kondisi yang ada, kita tidak boleh banyak mengeluh dengan apa yang terjadi pada diri kita, selagi kita mempunya semangat, selagi kita tetap punya keyakinan maka percayalah semua akan datang pada waktunya sebagaimana yang kita impikan. Kebaikan yang tentunya menuru Alloh, bukan kebaikan yang datang dari sudut pandang manusia, karena bisa jadi baik menurut manusia belum tentu baik menurut Alloh.

Pohon samping rumahku………..

Pohon Samping Rumahku.

Ketika saya bermimpi punya rumah, angan – angan yang pertama menancap di benak saya adalah rumah dengan halaman dan sisa tanah yang cukup untuk saya bisa menanam pohon dan bunga sesuai dengan kesukaan saya. Saat ini pelan – pelan beberapa pohon yang saya tanam sudah tumbuh dewasa, bahkan sebagian sudah berbuah beberapa kali. Pohon buah yang meliputi, pohon mangga, sirsak, rambutan, jambu, jeruk sudah cukup membuat halaman depan, dan kiri rumah saya menjadi rindang.  Ada satu pohon yang sangat saya sukai, pohon jambu biji, yang saya rawat dari kecil, pohon ini terasa spesial karena boleh di bilang dikampung saya sudah jarang sekali orang yang menanam atau memiliki pohon jambu biji. Jenis batang yang kuat, sampah daun juga agak jarang, membuat saya akan saya berat hati kalau kemudian suatu saat harus ditebang.

Sebagian orang sudah menghabiskan tanahnya untuk bangunan, bahkan hanya untuk menaman satu pohon saja sudah tidak ada tempat. Sangat miris saya melihatnya, mengingat saat ini bisa kita rasakan bersama bahwa musim kemarau yang pada tahun – tahun belakangan berlangsung sangat panjang, sangat terasa dengan semakin berkurangnya pohon. Bangunan – bangunan yang menjulang tinggai, infrastruktur yang di bangun baik pemerintah maupun swasta terus meluas ke lahan – lahan hijau. Sudah menjadi komitmen saya untuk mempertahankan pohon – pohon yang ada di depan dan samping rumahku untuk tetap tumbuh dan berdiri rindang, kalaupun harus di tebang karena usia, saya akan menggantikannya dengan pohon baru. Sehingga kelak anak dan cucu saya paling tidak masih bisa merasakan kesejukan di sekitar rumah meskipun di luar sana kondisi lingkungan sudah tidak ramah, semoga rumah ini bisa menjadi bagian sejarah kalau ayahnya masih punya mimpi untuk membiarkan pohon – pohon ini akan tetap terus ada.

ST3 Telkom Memanggil…

Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto kembali memanggil putra – putri terbaik bangsa untuk bergabung menjadi Dosen ST3 Telkom. Kesempatan kami berikan kepada mereka yang memak layak, kompeten, berdedikasi tinggi dan punya integritas memadai untuk menjadi bagian sejarah dalam perkembangan institusi.  Kami menanti anda ….

IKLAN LOWONGAN DOSEN(1)

Waktu Dalam Pergeseran Nilai…

sopan santunWaktu telah memberi banyak pelajaran berharga, seperti hari ini, saya harus melewati hari dengan kegiatan yang keluar dari agenda yang sudah saya siapkan begitu manis. Tetapi tidak mengapa, saya pikir lain waktu masih ada kesempatan untuk hal yang sama meski saya yakin situasinya akan berbeda. Adakalanya berdamai dengan keadaan lebih tenang, dari pada saya paksakan untuk berontak sedangkan situasinya memang belum memungkinkan. Nada merdu Opic “ Rapuh “ telah membawa saya pada keadaan hati, bahwa seringkali kita tidak sempurna dalam mencintai sesuatu, sehingga hati ini semakin rapuh dalam menghadapi hidup. Khalifah Ali Bin Abi Talib dalam bahasa indahnya menyampaikan bahwa nilai seseorang sesuai kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian harti nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.

Kita melihat saat ini pergeseran perilaku sudah sampai pada titik yang cukup mengkhawatirkan, perilaku menyimpang sudah menjadi trend yang berkembang menjadi sesuatu yang sudah lumrah. Laju perubahan jaman memang luar biasa, dan kita tidak mungkin mampu mengendalikan semua dengan segala keterbatasan dan kekurangan sebagai manusia. Kembali waktu telah mengantar kita pada satu jaman dimana, yang tadinya tabu sekarang menjadi transparan, yang tadinya semu sekarang menjadi kebiasaan, tidak ada batas dalam norma yang menjadi panutan. Sering singgah di pikiran kami jaman sekarang saja sudah begini, bagaimana dengan beberapa tahun kedepan, dengan jaman anak kita, cucu kita, bentuk peradaban seperti apa yang akan muncul di muka bumi ini, masihkan ada nilai etika, sopan santun dan tata krama yang akan tetap terjaga. Pada akhirnya waktu akan menjawab semua, entah kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup segarnya dunia, atau cerita akan berkata lain.

Cuti dan Kerjaan Akhir Tahun …..

Hampir terjadi di institusi manapun, bahwa akhir tahun akan disibukan dengan laporan pekerjaan tahun yang telah dilewati, dan seringkali banyak kegiatan yang belum tuntas. Fenomena ini sudah biasa terjadi apalagi di institusi yang besar dengan jumlah kegiatan, aset, dan sumber daya yang cukup banyak. Kesibukan ini akan semakin bertambah dengan adanya tanggal merah libur bersama, yang semakin memperpanjang kesempatan untuk dapat berlibur. Boleh jadi sebagian orang sangat menantikan hari libur tersebut, tetapi tidak sedikit pula orang yang khawatir dengan belum terselesaikannya beberapa pekerjaan karena dihadapkan dengan hari libur.

Apapun yang menjadi alasan banyak orang, datangnya hari libur tetap menjadi hari yang dinantikan oleh sebagian besar masyarakat. Aroma libur dan cuti sampai ke tempat kerja saya, sebagian besar pegawai kami juga menggunakan sisa cuti tahunan, untuk akhir tahun. Saya sendiri sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam sangat ingin sekali cuti, tetapi situasi dan kondisi yang belum memungkinkan untuk mengambil cuti, sementara keinginan untuk cuti di tunda sambil menunggu waktu yang tepat. Institusi ini sudah menjadi rumah kedua kami, sebagaimana sering saya sampaikan di beberapa kesempatan, saya rasa pendapat ini tidak terlalu berlebihan mengingat banyak waktu kami dihabiskan ditempat ini, dan saya juga merasa nyaman – nyaman saja.

Kebahagiaan memang tidak mutlak ketika kita bisa berada disekeliling orang – orang yang kita cintai, keluarga, dan pasangan kita, disaat libur, bagi saya kadang kala kebahagiaan juga muncul ketika saya bisa menyelesaikan pekerjaan secara tuntas. Pekerjaan yang sudah di tunggu banyak orang mengingat terkait dengan banyak kepentingan, pekerjaan kita yang menjadi bagian dari pekerjaan orang lain sehingga selesainya pekerjaan kita akan berpengaruh banyak terhadap selesainya pekerjaan orang lain. Hal yang lebih besar adalah apa yang kita kerjakan terkait dengan pihak eksternal, menyangkut kepentingan yang lebih luas, kepentingan institusi dalam hubungannya dengan banyak pihak, instansi lain, pemerintah, dan lebih luas adalah bangsa dan negara.

Akhir tahun yang yang akan dilanjutkan dengan pergantian tahun baru, banyak di tunggu – tunggu oleh masyarakat kita, bukan hanya saya mereka yang berstatus anak muda, tetapi juga orang tua yang menjadikan momen ini untuk bisa berkumpul dengan anak dan cucu. Cuti memang hak setiap orang, kehadirannya menjadi harapan tersendiri untuk melepas penat dan lelah, setelah sekian hari disibukan dengan berbagai aktifitas kerjaan. Berlibur bersama adalah dambaan setiap insan, melupakan sejenak segala rutinitas padat pekerjaan adalah cara kita merefresh diri untuk kembali bersemangat kerja, beranjak sejenak dari tempat duduk kerja, juga menjadi cara kita untuk mengusir kejenuhan.

Harapan besar juga akan muncul dari tempat – tempat usaha, kuliner, wisata, taman hiburan yang biasanya akan ramai dikunjungi para wisatawan, atau mereka yang ingin mencari sensasi tempat baru, hiburan baru, makanan baru, suasana baru, maka tidak jarang tempat – tempat seperti ini menjadi incaran banyak orang di akhir tahun. Bagi saya meski akhir tahun masih menyisakan pekerjaan yang belum terselesaikan, tetapi paling tidak, tidak terlalu berlebih, dan akan menjadi pekerjaan lanjutan yang akan bertumpuk sejajar dengan pekerjaan baru yang jauh lebih banyak dan berat. Pekerjaan dalam filosofi saya adalah seperti anak yang menuntut kita merawat, menjaga, dan menuntaskan dengan sebaik – baiknya, baik buruk, besar dan kecil, tumbuh atau layu akan berjalan sebagaimana proses kita dalam menaruh keyakinan bahwa pekerjaan akan terselesaikan tetapi tidak akan berakhir.

sungai

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE