Jam 11.45 WIB, Seperti kemarin,

Saat berkumpul dengan rekan – rekan dengan latar belakang yang berbeda – beda, dengan kompetensi yang beraneka rupa,  menjadikan saya merasa menjadi manusia yang belum menjadi apa – apa. Tepat jam 11. 45 WIB siang semangat mereka yang boleh di bilang sebagian besar usia sudah mendekati 40 tahun, masih tetap menyala dalam mengapresiasi  kegiatan. Kembali saya merasa menjadi manusia yang sepertinya tidak akan bisa mencapai seperti mereka, tertinggal sangat jauh, bukan siapa – siapa. Banyak orang sering menyampaikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini, kecuali atas kehendakNya, ini yang menjadikan saya kembali untuk mencoba menengadahkan kepala lagi, paling tidak untuk bisa menatap mereka lebih jauh. Keberanian ini harus saya tanamkan, paling tidak agar saya tidak gentar dalam menoreh catatan yang akan saya lakukan untuk hari depan, hari esok dalam sudut pandang yang sederhana.

Kembali jam 11.45 WIB seperti kemarin, mengingatkan pada saya kalau kemarin di jam itu saya sudah berjanji untuk terus membangun semangat baru. Waktu boleh bergulir tetapi tetap harus meninggalkan catatan bahwa says sudah lebih baik dari kemarin paling tidak pada jam itu. Lahir . tumbuh dan berkembang hanya soal waktu, sakit, tua, dan mati adalah kepastian. Tanda terima hidup adalah ketika kita mampu menerima apa yang sudah diberikan, menjaga, merawat dan menetapkan keberlangsungan dalam kebaikan untuk semua hal. Kebaikan yang berproses dari evaluasi diri terhadap setiap gerak, tingkah dan tutur dalam perjalanan waktu yang berbeda. Konsistensi terhadap komitmen dipertaruhkan sampai sejauh mana kita mampu melaksanakan setiap perjalanan dengan sebaik – baiknya, baik versi kita, orang lain dan Sang Pencipta. Boleh jadi saat ini rekan – rekan kita sudah di puncak pencapaian prestasi, sedangkan kita baru saja akan memulai, tidak ada yang salah, selagi kita ada kemauan untuk memulai.

Jam 11. 45 WIB, mengantarkanku pada waktu mendekati makan siang atau Sholat Dhuhur dulu untuk menghadap sang pencipta, sama – sama penting dengan waktu yang saling berdekatan. Waktu yang sempit ini kalau kita mengaturnya dengan baik, maka hanya akan menjadi waktu yang terbuang untuk leyeh – leyeh, bercanda dan senda gurau, yang akhirnya terlewat dari komitmen awal. Sebagian dari kita saya yakin sudah mempersiapkan apa saja yang akan dilakukan selepas ini, tetapi tidak jarang yang masing enggan untuk memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini. Soal nanti itu urusan nanti, barangkali ada yang berpendapat demikian, sekali lagi tidak jarang yang setelah ini sedang menggolkan pekerjaan besar, projek besar yang akan sangat berpengaruh terhadap masa depannya. Semoga kita segera beranjak dari jam 11.45 WIB yang kemarin untuk bisa berbuat hal yang berbeda untuk waktu lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *