Lahar bukan dari gunung berapi…..

Berfikir untuk maju, berfikir kedepan adalah prioritas bijak dalam menyikapi setiap  sistem yang akan terus lahir dan berubah. Saya masih ingat betul meskipun ini sudah cukup lama, waktu itu saya dan teman – teman masih terlibat dalam aktifitas di sebuah kampung nan jauh di Pulau Sumatera, tepatnya Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Persis matahari masih tajam diatas kepala, selepas sholat dhuhur kami berlima bergegas ke tempat yang sudah kami rencanakan, kampung nan indah di tengah kebun karet, Lemahtang kami biasa menyebutnya. Mobil Hartop andalan kami merupakan pinjaman gratis dari pengelola komplek olahraga, seorang pensiunan pegawai KONI yang menghabiskan masa tuanya mengabdikan diri di dunia olahraga.  Bahagia kami tatkala melewati jalan – jalan kecil kampung, kanan kiri lahan hijau, ramah tamah penduduk menyapa kami.

Banyak potensi sebenarnya yang ada di kampung yang kami singgahi, disamping semangat kerja keras penduduknya, meskipun sebagaian besar bertani dan berkebun, tetapi tidak sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk pendidikan putra – putrinya.  Sebut saja Diana, putri bungsu dari pasangan Satanawira dan Endahirah, lahir sebagai putri cerdas, ulet dan rajin beribadah. Disamping sekolah hari – harinya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, belajar dan mengaji. Disamping semua gambaran diatas kampus ini juga menyimpan potensi dasyat yang sewaktu – waktu bisa menjadi bara, apabila tidak dijaga kerukunan, toleransi dan saling menghormati, mengingat kemajemukan penduduknya dengan berbagai karakter.

Kami berlima sering menyebut kampung ini sebagai lahar bukan dari gunung berapi, mengingat  keanekaragaman yang ada dikampung ini, semangat menghargai perbedaan, suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota, namun kampung ini bisa mengalirkan hawa panas yang bisa menyebar kemanapun, dan mampu menunjukan keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat yang bisa diperhitungkan. Putra – putri mereka banyak tersebar diberbagai perguruan tinggi, instansi dan industri, mereka akan kembali dalam kesederhanaan ketika mereka berada ditengah – tengah kampung, tetap mau turun ke lumpur, tetap mau untuk terkena terik matahari, dan yang membuat kami sangat kagum adalah segala yang mereka raih di luar sana tidak kemudian menjadikan mereka saling beradu dan pamer serta menonjolkan kesuksesan masing – masing.

Semoga kearifan mereka tetap akan terjaga…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *